Ternyata mbah surip itu org intelek, filosofis, dan berpendidikan tinggi.. silakan baca artikel dibawah ya
ane copat dari jawapos 

Mbah Surip, dari Ladang Minyak ke Ranah Seni
Lagu Tak Gendong tentang Belajar Salah
Lirik lagu Tak Gendong milik Mbah Surip yang saat ini digemari memang terkesan sederhana. Tapi, makna yang dimaksudkan oleh penyanyi bergaya reggae, sang pembuat lagu, itu tidak mudah untuk dipahami. Seperti apa maksudnya? Simak juga kisah hidup pak tua sekaligus master di bidang filsafat tersebut.
---
SAAT memulai wawancara dengan Jawa Pos, Urip Ariyanto -nama lengkap Mbah Surip-menikmati santap siang di warung nasi kawasan studio penta SCTV Jumat lalu (19/6). Menunya sayur daun singkong, tahu, dan perkedel kentang. Minumnya teh manis panas dan segelas kopi.
Selera makannya kok sederhana? "Iya, yang saya suka. Perkedel kan enak. Tahu juga enak, tapi sedikit saja, jangan banyak-banyak. Sedangkan orang lain kan banyak. Saya belajar sedikit saja. Tapi, saya nggak mengatakan (menu, Red) itu sederhana, melainkan cukup," jawab pria kelahiran Mojokerto, 5 Mei 1949, tersebut.
Resep sehat ala Mbah Surip memang sederhana. "Jangan makan yang nggak kamu sukai dan bergaul dengan orang yang kamu sukai. Yang kamu suka itulah resep sehat. Bersiul, bernyanyi, belajar mengaji," ujarnya lantas tertawa.
Dia lalu menjelaskan lagu Tak Gendong yang saat ini dinyanyikan oleh banyak orang. Lagu itu berisi pembelajaran. Yakni, payung tempat manusia belajar salah menjadi benar. "Biasanya, yang dipelajari adalah sesuatu yang benar. Kalau itu, salah menjadi benar."
Tafsir sederhananya bagaimana? "Belajar salah itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik, galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli (penumpangnya, Red), entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar salah," jelasnya.
Lagu tersebut tercipta relatif lama, pada 1983. Waktu itu dia bekerja di Amerika Serikat. Dia baru masuk rekaman untuk album ketujuh kali ini. "Mungkin dulu bikin begitu, sekarang direnungkan lagi. Dibuat waktu ngebor minyak, tepatnya di California," ungkap ayah empat anak sekaligus kakek empat cucu itu.
Profesi Mbah Surip sebelumnya memang pekerja di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain. Sekitar sepuluh tahun dia menggeluti kerja lapangan tersebut. Tempat kerjanya bukan hanya Indonesia, tapi juga luar negeri, antara lain Kanada, Texas, dan Yordania. "Saya dulu engineer. Pernah ngebor minyak, pernah kerja di bidang kelistrikan, bangunan, borong-borongan," ucap sarjana kimia Universitas Sunan Giri, Surabaya, itu lantas tertawa.
Lalu, profesi paling pertama yang dicoba apa? "Nah, itu, saya bingung lagi. Wong, saya bisa juga cari ketela, ubi, buat bayar sekolah. Sayur basi saya kumpulkan untuk biaya sekolah. Saya senang sekolah. Ada S-1, MBA, akhirnya ya jadi mbah. Saya punya ijazah SMP, ST, SMEA, STM, Drs, sama insinyur dan MBA. Termasuk, saya mempelajari geologi," tuturnya. Dia enggan menyebut nama kampus tempatnya kuliah S-2 tersebut.
Tapi, belakangan Mbah Surip sibuk cari ijazahnya lagi. Dia lupa menyimpannya. Padahal, dia hendak mengurus persyaratan berangkat ke Inggris. Kerja apa lagi? "Ya ke Inggris saja pokoknya," ucapnya penuh rahasia.
Di Jakarta, Mbah Surip memang punya banyak "rumah". Bisa studio SCTV, kampung artis tempat syuting sinetron di kawasan Jakarta Timur, warung apresiasi Bulungan, komunitas teater, dan banyak lagi. Bagaimana kalau orang mau kirim surat? "Ke studio SCTV, bisa. Ke mana saja, bisa," terangnya.
Sejak 1998 Mbah Surip menjadi seniman, meninggalkan pekerjaan lama tersebut. Kenapa ingin menyanyi? "Jangan ditanya begitu. Semuanya enak di dunia ini, asal ada pekerjaan. Kemarin ya kemarin. Sekarang, mungkin besok, ya kita cari lagi," papar dia.
Sejak saat itu pula, dia berdandan ala reggae. Tapi, dia bukan penggemar Bob Marley. Mbah Surip justru menyatakan menggemari Bing Slamet (almarhum). "Itu bukan Bob Marley. Itu negara Bob Marley, Jamaika," tegasnya sambil menunjuk topi dengan corak bendera Jamaika. (Sugeng Sulaksono/tia)
Tulisan I Love You Full di Kantong Ponsel Mbah Surip Jadi Film
JARGON Mbah Surip, seperti yang juga tertulis di kantong ponsel yang tergantung di lehernya, adalah I Love You Full. Dengan siapa pun berjumpa, kata itu terucap dengan lantang. Kata tersebut dalam waktu dekat menjadi judul film layar lebar.
Dalam proyek film yang akan diproduksi Inno Maleo Picture itu, Mbah Surip direncanakan kebagian peran, selain menulis skenario bersama penulis lainnya. ''Nanti jadi cerita sendiri (soal film itu),'' ujarnya.
Mbah Surip kali pertama mengucapkan jargon tersebut saat di kawasan tambang minyak di Belitung. Sebagai penggemar kopi, dia sangat betah karena berderet 36 warung kopi. ''Itu yang terhitung. Yang tidak terhitung bisa ratusan,'' kenang dia yang saat wawancara sudah menghabiskan dua gelas kopi hitam.
Namun setelah itu, makna I Love You Full tidak sesederhana cinta kepada kopi. ''Maksudnya, cintaku adalah segalanya. Itu adalah jargon Mbah. Jadi, cintaku untuk semua manusia, tumbuh-tumbuhan, dan Tuhan. Untuk semua,'' ungkapnya.
Apakah berbagai pemikiran Mbah Surip, mulai belajar salah dan jargon I Love You Full, merupakan hasil mempelajari filsafat? ''Ya mungkin. Di mana rayuan-rayuan orang yang nggak kelihatan terus bisa memberi gambaran menjadi kehidupan. Carilah orang yang mengerti ekonomi di negeri ini kalau rakyat ingin makmur,'' ujarnya. (gen/tia)
Mbah Surip 26 Tahun Tidak Menggapai Asmara
Sudah 26 tahun Mbah Surip menjomblo. Alasannya, saat itu dan sampai saat ini, dirinya masih terlalu sibuk dengan karir. Jadi, menurut istilahnya, Mbah Surip tidak menggapai asmara.
Saat menduda, Mbah Surip masih sibuk di perminyakan. Kapan akan menikah lagi? "Belum terpikir. Daripada nyusahin orang lain, mendingan mikir diri sendiri dulu dan mempelajari salah," tegasnya.
Apa reaksi keluarga saat Mbah Surip memutuskan untuk banting setir ke bidang seni? "Wah, saya jangan ditanya begitu. Bahwa saya sudah mempelajari saja salah, jangan ditanya reaksi. Aku sudah belajar minus, bukan plus," ujarnya berfilosofi.
Sejak di bidang seni, Mbah Surip memang total menjadi seniman. Dia sering bergaul dengan banyak pekerja seni, mulai teater Teguh Karya sampai yang paling muda saat ini. "Saya kenal teater sejak 1989," ungkapnya.
Meski begitu, Mbah Surip jauh dari kesan glamor. Tidak seperti selebriti kebanyakan, sebagai sosok yang dikenal banyak orang, pria yang gimbal sejak 1998 itu ke mana-mana naik sepeda motor. "Oh, saya sudah glamor. Apa saja, jalan kaki juga. Sementara ini, hidup saya ya begini. Mungkin selamanya ya nggak apa-apa," ucap Mbah Surip cuek.
Hanya karena lagu Tak Gendong sangat populer, Mbah Surip tidak lantas merasa harus berubah. Dia menyatakan sejak dulu pun sudah populer. Ke mana saja banyak orang yang menyapa. "Yang penting dalam hidup ini sopan. Memperkenalkan diri, kenal maka sayang," tuturnya. (gen/tia)
sumber : jawapos
kalo suka mohon dirating ya
ane copat dari jawapos 

Mbah Surip, dari Ladang Minyak ke Ranah Seni
Lagu Tak Gendong tentang Belajar Salah
Lirik lagu Tak Gendong milik Mbah Surip yang saat ini digemari memang terkesan sederhana. Tapi, makna yang dimaksudkan oleh penyanyi bergaya reggae, sang pembuat lagu, itu tidak mudah untuk dipahami. Seperti apa maksudnya? Simak juga kisah hidup pak tua sekaligus master di bidang filsafat tersebut.
---
SAAT memulai wawancara dengan Jawa Pos, Urip Ariyanto -nama lengkap Mbah Surip-menikmati santap siang di warung nasi kawasan studio penta SCTV Jumat lalu (19/6). Menunya sayur daun singkong, tahu, dan perkedel kentang. Minumnya teh manis panas dan segelas kopi.
Selera makannya kok sederhana? "Iya, yang saya suka. Perkedel kan enak. Tahu juga enak, tapi sedikit saja, jangan banyak-banyak. Sedangkan orang lain kan banyak. Saya belajar sedikit saja. Tapi, saya nggak mengatakan (menu, Red) itu sederhana, melainkan cukup," jawab pria kelahiran Mojokerto, 5 Mei 1949, tersebut.
Resep sehat ala Mbah Surip memang sederhana. "Jangan makan yang nggak kamu sukai dan bergaul dengan orang yang kamu sukai. Yang kamu suka itulah resep sehat. Bersiul, bernyanyi, belajar mengaji," ujarnya lantas tertawa.
Dia lalu menjelaskan lagu Tak Gendong yang saat ini dinyanyikan oleh banyak orang. Lagu itu berisi pembelajaran. Yakni, payung tempat manusia belajar salah menjadi benar. "Biasanya, yang dipelajari adalah sesuatu yang benar. Kalau itu, salah menjadi benar."
Tafsir sederhananya bagaimana? "Belajar salah itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik, galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli (penumpangnya, Red), entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar salah," jelasnya.
Lagu tersebut tercipta relatif lama, pada 1983. Waktu itu dia bekerja di Amerika Serikat. Dia baru masuk rekaman untuk album ketujuh kali ini. "Mungkin dulu bikin begitu, sekarang direnungkan lagi. Dibuat waktu ngebor minyak, tepatnya di California," ungkap ayah empat anak sekaligus kakek empat cucu itu.
Profesi Mbah Surip sebelumnya memang pekerja di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain. Sekitar sepuluh tahun dia menggeluti kerja lapangan tersebut. Tempat kerjanya bukan hanya Indonesia, tapi juga luar negeri, antara lain Kanada, Texas, dan Yordania. "Saya dulu engineer. Pernah ngebor minyak, pernah kerja di bidang kelistrikan, bangunan, borong-borongan," ucap sarjana kimia Universitas Sunan Giri, Surabaya, itu lantas tertawa.
Lalu, profesi paling pertama yang dicoba apa? "Nah, itu, saya bingung lagi. Wong, saya bisa juga cari ketela, ubi, buat bayar sekolah. Sayur basi saya kumpulkan untuk biaya sekolah. Saya senang sekolah. Ada S-1, MBA, akhirnya ya jadi mbah. Saya punya ijazah SMP, ST, SMEA, STM, Drs, sama insinyur dan MBA. Termasuk, saya mempelajari geologi," tuturnya. Dia enggan menyebut nama kampus tempatnya kuliah S-2 tersebut.
Tapi, belakangan Mbah Surip sibuk cari ijazahnya lagi. Dia lupa menyimpannya. Padahal, dia hendak mengurus persyaratan berangkat ke Inggris. Kerja apa lagi? "Ya ke Inggris saja pokoknya," ucapnya penuh rahasia.
Di Jakarta, Mbah Surip memang punya banyak "rumah". Bisa studio SCTV, kampung artis tempat syuting sinetron di kawasan Jakarta Timur, warung apresiasi Bulungan, komunitas teater, dan banyak lagi. Bagaimana kalau orang mau kirim surat? "Ke studio SCTV, bisa. Ke mana saja, bisa," terangnya.
Sejak 1998 Mbah Surip menjadi seniman, meninggalkan pekerjaan lama tersebut. Kenapa ingin menyanyi? "Jangan ditanya begitu. Semuanya enak di dunia ini, asal ada pekerjaan. Kemarin ya kemarin. Sekarang, mungkin besok, ya kita cari lagi," papar dia.
Sejak saat itu pula, dia berdandan ala reggae. Tapi, dia bukan penggemar Bob Marley. Mbah Surip justru menyatakan menggemari Bing Slamet (almarhum). "Itu bukan Bob Marley. Itu negara Bob Marley, Jamaika," tegasnya sambil menunjuk topi dengan corak bendera Jamaika. (Sugeng Sulaksono/tia)
Tulisan I Love You Full di Kantong Ponsel Mbah Surip Jadi Film
JARGON Mbah Surip, seperti yang juga tertulis di kantong ponsel yang tergantung di lehernya, adalah I Love You Full. Dengan siapa pun berjumpa, kata itu terucap dengan lantang. Kata tersebut dalam waktu dekat menjadi judul film layar lebar.
Dalam proyek film yang akan diproduksi Inno Maleo Picture itu, Mbah Surip direncanakan kebagian peran, selain menulis skenario bersama penulis lainnya. ''Nanti jadi cerita sendiri (soal film itu),'' ujarnya.
Mbah Surip kali pertama mengucapkan jargon tersebut saat di kawasan tambang minyak di Belitung. Sebagai penggemar kopi, dia sangat betah karena berderet 36 warung kopi. ''Itu yang terhitung. Yang tidak terhitung bisa ratusan,'' kenang dia yang saat wawancara sudah menghabiskan dua gelas kopi hitam.
Namun setelah itu, makna I Love You Full tidak sesederhana cinta kepada kopi. ''Maksudnya, cintaku adalah segalanya. Itu adalah jargon Mbah. Jadi, cintaku untuk semua manusia, tumbuh-tumbuhan, dan Tuhan. Untuk semua,'' ungkapnya.
Apakah berbagai pemikiran Mbah Surip, mulai belajar salah dan jargon I Love You Full, merupakan hasil mempelajari filsafat? ''Ya mungkin. Di mana rayuan-rayuan orang yang nggak kelihatan terus bisa memberi gambaran menjadi kehidupan. Carilah orang yang mengerti ekonomi di negeri ini kalau rakyat ingin makmur,'' ujarnya. (gen/tia)
Mbah Surip 26 Tahun Tidak Menggapai Asmara
Sudah 26 tahun Mbah Surip menjomblo. Alasannya, saat itu dan sampai saat ini, dirinya masih terlalu sibuk dengan karir. Jadi, menurut istilahnya, Mbah Surip tidak menggapai asmara.
Saat menduda, Mbah Surip masih sibuk di perminyakan. Kapan akan menikah lagi? "Belum terpikir. Daripada nyusahin orang lain, mendingan mikir diri sendiri dulu dan mempelajari salah," tegasnya.
Apa reaksi keluarga saat Mbah Surip memutuskan untuk banting setir ke bidang seni? "Wah, saya jangan ditanya begitu. Bahwa saya sudah mempelajari saja salah, jangan ditanya reaksi. Aku sudah belajar minus, bukan plus," ujarnya berfilosofi.
Sejak di bidang seni, Mbah Surip memang total menjadi seniman. Dia sering bergaul dengan banyak pekerja seni, mulai teater Teguh Karya sampai yang paling muda saat ini. "Saya kenal teater sejak 1989," ungkapnya.
Meski begitu, Mbah Surip jauh dari kesan glamor. Tidak seperti selebriti kebanyakan, sebagai sosok yang dikenal banyak orang, pria yang gimbal sejak 1998 itu ke mana-mana naik sepeda motor. "Oh, saya sudah glamor. Apa saja, jalan kaki juga. Sementara ini, hidup saya ya begini. Mungkin selamanya ya nggak apa-apa," ucap Mbah Surip cuek.
Hanya karena lagu Tak Gendong sangat populer, Mbah Surip tidak lantas merasa harus berubah. Dia menyatakan sejak dulu pun sudah populer. Ke mana saja banyak orang yang menyapa. "Yang penting dalam hidup ini sopan. Memperkenalkan diri, kenal maka sayang," tuturnya. (gen/tia)
sumber : jawapos
kalo suka mohon dirating ya


Sabtu, Juli 04, 2009
Posted in: 









